Pelemahan Nilai Tukar Rupiah dan Dampak Kenaikan Harga Barang: Berita Terkini Mei 2026

Jakarta, 21 Mei 2026 – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus mengalami tekanan signifikan dalam dua pekan terakhir, bahkan sempat menyentuh level terlemah dalam sejarah perdagangan, yaitu Rp17.784 per dolar AS pada awal minggu ini, sebelum sedikit menguat menjadi kisaran Rp17.600–Rp17.650/USD pada penutupan perdagangan Rabu–Kamis (20–21/5), menyusul langkah kebijakan Bank Indonesia . Data resmi Bank Indonesia per 18 Mei 2026 mencatat kurs transaksi berada di angka jual Rp17.583,48 dan beli Rp17.408,52 per dolar AS, yang menunjukkan depresiasi sekitar 2,2% dibandingkan akhir April 2026 .

Pelemahan ini dipicu oleh kombinasi faktor eksternal: penguatan indeks dolar AS global, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS mendekati 4,7%, ketegangan geopolitik di Timur Tengah, serta lonjakan harga minyak mentah dunia yang bertahan di atas US$107 per barel, jauh di atas asumsi APBN 2026 sebesar US$70 per barel. Menanggapi hal ini, Bank Indonesia secara agresif menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 50 basis poin menjadi 5,25% pada Rapat Dewan Gubernur 19–20 Mei, guna menahan arus keluar modal dan menstabilkan nilai tukar .

Dampak langsung pelemahan rupiah kini mulai terasa nyata di sektor riil dan kebutuhan pokok masyarakat. Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) per 20 Mei 2026, harga komoditas yang bergantung pada bahan baku atau pasokan impor mengalami lonjakan cukup tajam:

- Daging sapi kualitas I: Rp147.450/kg (naik sekitar Rp12.000–Rp15.000 dibanding bulan lalu)

- Bawang putih: Rp38.650/kg

- Gula pasir premium: Rp20.020/kg

- Kedelai bahan baku tahu-tempe: naik hingga 18–22%, berimbas pada harga jual produk olahan

- Pupuk non-subsidi: melonjak lebih dari 50%, pupuk urea kini mencapai Rp580.000 per karung 50 kg

Sekretaris Jenderal Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi), Reynaldi Sarijowan, menjelaskan bahwa kenaikan ini tak terelakkan karena sekitar 30–40% kebutuhan pangan dan bahan industri Indonesia masih bergantung pada pasokan luar negeri. “Saat rupiah turun, biaya impor langsung membengkak, dan biaya itu otomatis diteruskan ke konsumen akhir,” ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (19/5).

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat indikasi tekanan inflasi; laju inflasi bulanan Mei diprediksi sedikit naik dibanding April, terutama pada kelompok makanan, minuman, dan rokok, serta kelompok transportasi akibat kenaikan harga bahan bakar dan logistik.

Pemerintah dan Bank Indonesia menegaskan akan terus memantau pergerakan pasar dan menyiapkan instrumen kebijakan tambahan jika tekanan berlanjut. Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan stabilitas nilai tukar tetap menjadi prioritas utama agar dampak terhadap daya beli masyarakat dapat diminimalisir. Di sisi lain, Kementerian Perdagangan mulai memperluas pasokan dari sumber dalam negeri dan mengatur distribusi agar kenaikan harga tidak berlebihan dan tidak terjadi kelangkaan.

Sampai berita ini diturunkan, pasar masih menunggu efektivitas kenaikan suku bunga dan kebijakan penyeimbang pasokan. Masyarakat diimbau untuk bijak berbelanja dan memanfaatkan alternatif produk lokal yang tidak terpengaruh fluktuasi mata uang.

Catatan: Seluruh data dan pernyataan dalam artikel ini dikutip dari rilis resmi Bank Indonesia, BPS, PIHPS, dan laporan berita terverifikasi pada periode 18–21 Mei 2026. 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

About Author